entahlah
Saling berlomba Meniti pelupuk mata yang sayu nan sembab bersamaan dengan kepedihan bagai di batas kepalsuan nestapa Dimana nurani mu wahai pemilik kepalsuan? Merugikah jikalau wajah menampakan kebaikan? sekali saja. Apalah arti kehidupan dalam setiap gores pena Jikalau jiwa-jiwa meraung haus akan kebenaran ? Masih saja kau permainkan. Kau bilang Lupakan semua kisah sedih hilangkan hal yang menyakitkan untuk disebarkan. Lalu kami meraung pilu Terbaring lemah di sudut keramaian suka. Iya hanya itu yang kau minta. lalu kami yang biasa bisa berbuat apa ? Maaf, tanpa mengurangi rasa hormat kami muak dengan semua ini. Anggrek, 14 oktober 2015